Minggu, 26 Mei 2013

MAKALAH ILMU KALAM

14.28

MAKALAH ILMU KALAM KERANGKA BERPIKIR ALIRAN – ALIRAN ILMU KALAM, LATAR BELAKANG, PERBEDAAN PENDAPAT DALAM ISLAM DAN PERSOALAN – PERSOALAN KALAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Mengkaji aliran – aliran ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya memahami kerangka berpikir dan peroses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan persoalan – persoalan kalam. Yang memiliki dua metode yaitu metode rasional  yang memiliki perinsif – perinsif yaitu: Hanya terkait pada dogma – dogma yang dengan jelas disebut dalam al – qur’an dan hadis nabi yaitu hadis qath’i dan memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak  serta memberikan daya yang kuat pada akal.
 Adapun metode berpikir tradisional berpikir memiliki perinsif – perinsif yaitu: Terkait pada dogma – dogma dan ayat – ayat yang mengandung arti zhanni, Tidak memberikan kebebesan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat, yang memberikan daya yang kecil pada akal.
Menurut Harun Nasution kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa penbunuhan utsman bin affan, yang terbentuk dalam penolakan mu’awiyah atas kekhalifaan Ali bin Abi thalib. Persoalan ini telah menimbukan 3 aliran teologi dalam islam yaitu:  Aliran khawarij, aliran ini berpendapat  atau menegaskan bahwa orang yang berdosa besar atau kafir dalam arti telah keluar dari islam maka wajib dibunuh. Aliran murji’ah yaitu menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mu’min dan bukan kafir, adapun dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.Aliran mu’tazilah.

B.     Rumusan masalah
A.    Seperti apakah kerangka  berpikir aliran – aliran ilmu kalam ?
B.     Apakah latar belakang perbedaan pendapat dalam islam ?
C.     Bagai manakah persoalan – persoalan kalam?
C.  Tujuan
A.    Untuk mengetahui kerangka  berpikir aliran – aliran ilmu kalam.
B.     Untuk mengetahui latar belakang perbedaan pendapat dalam islam.
C.     Untuk mengetahui persoalan – persoalan kalam
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Kerangka  Berpikir Aliran – Aliran Ilmu Kalam

Sebelum kita membahas tentang kerangka berpikir ilmu kalam, kita harus memahami apa depenisi dari ilmu kalam itu sendiri. Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama yaitu:
1.      Ilmu ushuludin
2.      Ilmu tauhid
3.      Fiqih ak-bar
4.      Teologi islam
Jadi dapat disimpulkan bahwa Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas berbagai masalah keTuhanan dengan menggunakan argomentasi logika atau filsafat’ secara teoritis ‘
Sebagaimana sumber ilmu kalam, Al –Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah keTuhanan  seperti :
a.       Q. S al – iklas ( 112 ) : 3- 4 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakan, serta tidak ada sesuatupun didunia ini yang tanpak sekutu baginya.
b.      Q. S . asy –syura ( 42 : 7 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun didunia ini.  Ia maha mendengar dan maha mengetahui.
c.       Q. S. Ali – imron ( 3) : 84 – 85, ayat ini menunjukan bahwa Tuhanlah yang menurunkan petunjuk jalan kepada para nabi.
Ayat – ayat diatas berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan,tuntunan, dan hal – hal lain yang berkaitan dengan ekstensi Tuhan, yaitu pembicaraan tentang hal – hal yang berkaitan dengan keTuhanan itu disistimatiskan yang pada giliranhnya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu kalam.
B.     Latar Belakang Perbedaan Pendapat Dalam Islam
Latar belakang ilmu  kalam muncul karena disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1.      Faktor internal adalah yang menyebabkan timbulnya ilmu kalam karena masalah – masalah politik  karena akal pikiran mereka mulai memfilsafatkan agama, dan karena Al – Qur’an itu tidak hanya sebagai seruan dakwah.
2.      Faktor eksternal yang menyebabkan timbulnya ilmu kalam karena kebanyakan orang – orang memeluk agama islam sesuda kemenangannya, karena golongan islam yang terdahulu terutama mu’tazilah lebih mementingkan atau memusatkan perhatian untuk dakwah islamiyah dan membantah orang orang yang membanta alasan orang – orang yang memusuhi islam.
Mengkaji aliran – aliran ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya memahami kerangka berpikir dan peroses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan persoalan – persoalan kalam.  
Adapun perbedaan metode berpikir secara garis besar dapat dikategoikan menjadi dua macam yaitu kerangka berpikir tradisional metode tradisional dan berpikir rasional .
Metode rasioal memiliki perinsif – perinsif sebagai berikut :
1.      Hanya terkait pada dogma – dogma yang dengan jelas disebut dalam al – qur’an dan hadis nabi yaitu hadis qath’i
2.      Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat pada akal.
Adapun metode berpikir tradisional memiliki perinsif – perinsif yaitu:
1.      Terkait pada dogma – dogma dan ayat – ayat yang mengandung arti zhanni.
2.      Tidak memberikan kebebesan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
3.      Memberikan daya yang kecil pada akal.

a.    Aliran antroposentris
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intracosmos dan impersonsl, ia berhubungan erat dengan masyarkat cosmos baik yang natural maupun yang supernatural dengan demikian manusia harus mampu menghapus, keperibadian kemanusiannya. Untuk meraih kemerdekaan lilitan natural. 
b.    Teologi teosentris
Aliran ini mengagap bahwa hakikat realitas transenden bersifat supercosmos personal dan ketuhanan. Kadang kala manusia teoritis untuk manusia yang statis sering kali terjebak dalam kepasraan mutlak kepada Tuhan sikaf kepasraan menjadikan penguasa mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.
Aliran tioritis menggap bahwa daya yang menjadi potinsi perbuatan baik atau jahad manusia bisa datang sewaktu dari Tuhan, bahkan manusia dapat dikatakan tidak mempunyai daya sama sekali terhadap segala perbuatannya aliran teologi tergolong dalam kategori Jabariayah.
c.    Aliran konvergensi / sentesis
Aliran ini menganggap bahwa hakekat realitas terensinden bersifat super sekaligus intracosmos dan sifat lain yang dikotomik. Aliran konvergensi memandang bahwa pada dasarnya, segala sesuatu itu selalu berada dalam ambigu ( serba ganda ) baik substansional maupun formal. Substansi atau sesuatu mempunyai nilai – nilai batinyah, hawiyah, dan enternal.
Aliran ini berkaitan bahwa hakikat daya manusia merupakan proses kerjasama antara daya yang transendental ( Tuhan )  dalam bentuk kebijakan dan daya temporal ( manusia ) dalam bentuk teknis. Kesimpulannya aliran ini berpendapat bahwa kehendak manusia yang perofan selalu berdampingan dengan Tuhan yang sakral dan menyatu dalam daya manusia. Aliran yang dapat di masukan kedalam kategori ini adalah asy’ariyah.
d.   Aliran Nihilis
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transendental hanyalah ilus. Aliran ini pun menolak Tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi Tuhan cosmos. Manusia hanyalah bintik kecil dari aktivitas mekanisme dalam suatu masyarakat yang serbah kebetulan.
C.  Persoalan – Persoalan Kalam
Menurut Harun Nasution kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa penbunuhan utsman bin affan, yang terbentuk dalam penolakan mu’awiyah atas kekhalifaan Ali bin Abi thalib.
Persoalan ini telah menimbukan 3 aliran teologi dalam islam yaitu: 
a.       Alira khawarij
Aliran ini menegaskan bahwa orang yang berdosa besar atau kafir dalam arti telah keluar dari islam maka wajib dibunuh.
b.      Aliran murji’ah
Aliran ini menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mu’min dan bukan kafir, adapun dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.
c.       Aliran mu’tazilah
Aliran ini menegaskan bahwa tidak menerima kedua pendapat kahawarij dan murji’ah, karena bagi mereka orang yang berdosa bukan kafir tetapi bukan pula mu’min. Mereka mengambil antara mu’min dan kafir, yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan istilah Al- Manzilah Manzilatan ( posisi diantara 2 posisi.
Dalam islam timbul pula dua aliran dalam tiologi yang terkenal dengan nama “ Qadariyah” dan “Jabariyah”. Menurut Qadariyah manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya. Adapun jabariah adalah bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya.
Aliran – aliran khawarij. murji’ah dan mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi, kecuali dalam sejarah. Adapun yang masih ada sampai sekarang adalah aliran asy’ariyah dan maturidiyah yang keduanya disebut “ Ahluussunnah Wal Jam’ah “.

Hubungan Ilmu Kalam Dengan Filsafat Islam Banyak para ahli yang berpendapat bahwa ilmu kalam dan filsafat Islam memiliki hubungan karena pada dasarnya ilmu kalam adalah ilmu ketuhanan dan keagamaan. Sedangkan filsafat Islam adalah pembuktian intelektual. Seperti halnya Dr. Fuad Al-Ahwani dalam bukunya filsafat Islam tidak setuju kalau sama dengan ilmu kalam. Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah swt. Dan sifat-sifatnya serta hubungannya dengan alam dan manusia yang berada di bawah syari’at-Nya. Obyek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah swt. Sebagaimana aliran materialisme. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya ilmu kalam dan filsafat tidak memiliki hubungan karena obyek kajiannya berbeda. Kalam obyek kajiannya lebih mendasar pada ketuhanan sedangkan filsafat Islam objek kajiannya tentang alam manusia yang berada pada syari’atnya.
HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM 
Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keIslaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar- dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam menerangkan bahwa Allah bersifat Sama’, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat, dan sebagainya. Namun, ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya, bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Qur’an, bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari kekuasaan Allah ? Pernyataan-pernyataan diatas sulit terjawab hanya dengan berlandaskan pada ilmu kalam. Biasanya, yang membicarakan penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu Tasawuf. Disiplin inilah yang membahas
bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan memperhatikan bahwa persoalan bagaimana merasakan tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang diwajibkan. Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman. Sebagaimana dijelaskan juga tentang menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab terkadang seseorang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya. Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu Tasawuf mempunyai fungsi sebagai berikut.1. Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu Tasawuf merupakan penyempurna ilmu kalam. 
Berfungsi sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak. 
Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan- perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih bebas. Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan hati. Andaikata manusia sadar bahwa Allahlah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna, kalau saja dia tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam
Pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi). Dalam ilmu Tasawuf, semuapersoalan yang berada dalam kajian ilmu kalam terasa lebih bermakna, tidak kaku,tetapi akan lebih dinamis dan aplikatif.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu yang berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan,tuntunan, dan hal – hal lain yang berkaitan dengan ekstensi Tuhan, yaitu pembicaraan tentang hal – hal yang berkaitan dengan keTuhanan itu disistimatiskan yang pada giliranhnya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu kalam.
B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu keritik, saran, dan masukan yang sifatnya membangun sangatlah kami harapkan untuk baiknya makalah ini ke depannya.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

1 komentar:

 

© 2013 CARMI92. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top